Quebec Fine Arts Museum

Akhir pekan lalu, kami mengunjungi Québec Fine Arts Museum/Musée National des Beaux-arts du Québec. Hamdalah, rejeki istri sholehah dapet hadiah tiket gratis masuk museum ini untuk 2 orang dari seorang teman yang baik hati 😂

WhatsApp Image 2017-12-30 at 20.28.19
Saya suka mengunjungi museum. Tapi biasanya museum sejarah. Ini pertama kalinya saya mengunjungi museum fine arts. Karena sebenarnya sense of arts saya ada pada level tiarap😂. Saya kurang bisa memahami karya seni abstrak ataupun kontemporer. Selalu gagal memahami karya seni yang kelewat artistik itu.

Tapi karena memang penasaran dengan museum des Beaux-arts du Québec ini, kami pun dengan sepenuh hati berangkat. Akhir pekan lalu Québec masih diselimuti cuaca dingin yang kurang sopan. Kami pun memutuskan untuk naik bus.

Museum ini terdiri dari 4 bangunan, yaitu: Pierre Lassonde Pavillon – lobi utama yang memajang seni kontemporer, Central Pavillon, Gérard Morisset Pavillon yang memamerkan historical art dan temporary exhibition dan Charles Baillargé Pavillon yang menampilkan seni modern,

WhatsApp Image 2018-01-01 at 15.15.25

Central Pavillon dilihat dari lantai 3 Pierre Lassonde Pavillon

Gedung pertama yang kami kunjungi adalah Pierre Lassonde Pavillon karena gedung ini letaknya paling dekat dengan halte bus di (jalan) Grande Allée. Bangunan terbaru di antara semua gedung, desainnya modern dan didominasi kaca.

Masuk ke dalam gedung, suasana cukup ramai. Di sebelah kanan ada restoran, di sebelah kiri ada cloakroom. Disini kami menitipkan tas ransel, jaket, dll. Penitipan ini gratis dan pelayanannya super-ramah.

2017_1230_17212100

Suasana lobi utama Pierre Lassonde Pavillom

Setelah menitipkan barang-barang, kami pun celingukan. Dimana tempat penukaran tiket? Ada satu area di lobi dengan antrian panjang. Tapi dasar saya pemalas, saya pun sotoy bilang ke suami, “Itu tempat pinjem alat interpreter. Kita ga usah pinjem“. Lalu kami pun melenggang ke lantai 3 melalui tangga yang luasnya ga kira-kira.

Tiba di lantai 3, kami langsung menuju ke ruangan Inuit (suku aborigin di Kanada). Di ruangan ini memamerkan berbagai karya suku inuit.

2017_1230_15422900

Salah satu karya suku inuit yang berjudul “musk-ox berwajah manusia”

Karena perasaan suami kurang enak, kami memutuskan untuk kembali ke bawah. “Masa iya sih kita ga perlu nuker tiket?”, kata suami.

Ternyataa… antrian panjang di bawah tadi selain untuk sewa alat interpreter juga ada counter pembelian/penukaran tiket 😂. Jadi, setelah tiket kami serahkan, kami mendapatkan gelang sebagai tanda masuk.

2017_1230_17185300

Gelang tiket masuk museum

Meski tadi kami tak mengenakan gelang, tak ada satu security pun yang menghampiri dan bertanya dimana gelang kami, ahahah.. Kata suami, “Kayanya di Kanada cuma seribu satu yang nyelonong masuk museum” 😂 Iya juga sih. Disini orang kan tertib dan taat peraturan. Mungkin para security itu khusnudzon, “mungkin gelangnya ketutup fleece/jaket”. 

Baiklah, setelah mendapatkan gelang, kami kembali ke lantai 3. Kali ini kami menggunakan lift yang luasnya sekitar 3×4 meter, tingginya sekitar 6 meter dan dilapisi gorden. Sempat norak, “ini kamar…atau lift?” 😂

Di lantai 3 kami menuju ruangan ‘Decorative Arts and Design”. Disini kami mulai garuk-garuk. Benda-benda yang ditampilkan beda tipis dengan display di IK*A 😂. Duh, maafkan selera seni kami yang tiarap ini 😂😂.

Kami pun beranjak ke lantai 2 – seni kontemporer. Disini kami disambut lukisan yang mirip TVRI pasca siaran. Garis-garis beberapa warna. Ada pula dua lingkaran besar berwarna abu-abu dengan gradasi.
Tapi ada dua hal yang unik, sebuah monitor yang memutar film mengenai orang membersihkan pecahan kaca lalu dimasukkan ke sebuah kotak kayu. Lalu di sebelah monitor  itu ada kotak kayu yang dipenuhi pecahan kaca. Ini apa kira-kira maknanya??? 😂😂😂 *sayang ini ga difoto karena kami keburu pening 😂

WhatsApp Image 2018-01-01 at 20.37.11

Salah satu karya seni di lantai 2

Kemudian kami memutuskan untuk mengunjungi gedung yang lain. Untuk menuju kesana, kita bisa melalui tunnel (lorong di lantai bawah tanah). Di sepanjang lorong dipajang seni mural.

WhatsApp Image 2018-01-01 at 15.12.58

Di ujung lorong, kita sampai di Central Pavillon. Disini ada family gallery. Kali ini menampilkan karya Jose Luis Torres dengan judul “D’ENTRÉE DE JEU”

2017_1230_16155300

Ternyata Family Gallery, terhubung dengan gedung Gérard Morisset Pavillon. Pas banget, kami memang ingin melihat bagian historical art. Namun sayang sekali, bagian yang menampilkan historical art (lantai 2 dan 3) sedang dalam renovasi 😔. Hanya ada satu ruangan yang bisa diakses, yaitu ruangan temporary exhibition. Dan lagi-lagi kami harus kecewa karena seni yang ditampilkan tidak bisa kami pahami. Potongan tubuh manusia (kepala, telinga, tangan, dll), semut-semut, buah-buahan, dll. Menurut saya terlalu sadis 😔

Masih ada harapan di gedung terakhir, Charles Baillargé Pavillon. Hamdalah ketika masuk ke gedungnya, penampakannya lebih menyenangkan. Berdinding batu bata dan terasa hangat.

2017_1230_17083800

Pintu masuk Charles Baillairge Pavillon

Kami bergegas menuju lantai 5 dengan menggunakan lift. Tiba di lantai 5, kami naik tangga untuk menuju menara. Dari menara ini kita bisa melihat Sungai Saint Lawrence yang beku.

WhatsApp Image 2018-01-01 at 21.05.56

Sungai St. Lawrence beku

Beranjak ke lantai 4, kami tersenyum bahagia. Akirnya ada lukisan yang bisa kami ‘rasakan’!! 😂 Judulnya ‘Jardin Vert’ atau Kebun Hijau karya seniman Quebec Alfred Pellan.

2017_1230_16361600

Jardin vert

Selain melukis, Alfred Pellan rupanya suka berkreasi dengan berbagai benda. Salah satunya sepatu.

2017_1230_16343100

Sepatu karya Alfred Pellan yang judulnya “untuk menendang pant*t”

Setelah puas melihat koleksi Alfred Pellan, kami menuju ke lantai 2. Di lantai 2 saya kembali kecewa dengan sense of art saya. Saya tidak bisa merasakan apa-apa saat memandang lukisan ini 😂

2017_1230_17003200

Di lantai 2 ini ada beberapa lukisan dengan satu warna di sebuah kanvas. Beberapa dibiarkan digantung sendiri, ada pula yang dijajarkan dengan warna-warna lain.

2017_1230_16584600

Masih di lantai yang sama, ada beberapa ‘ruang’ yang mirip sel penjara. Rupanya dulu gedung ini memang digunakan sebagai penjara. Saat ini masih disisakan beberapa ‘kamar’.

WhatsApp Image 2018-01-01 at 15.12.58 (1)

beberapa kamar penjara

Lalu kami bergegas kembali ke lobi utama karena tak lama lagi museum akan tutup.

Oya, jika ingin menggunakan interpreter/mediaguide, kita bisa gunakan gawai kita dan mengunduh aplikasinya secara gratis. Namun jika ingin meminjam tablet milik museum, dikenakan biaya C$2 per buah.

Yak, demikian laporan dari Québec Fine Arts Museum/Musée National des Beaux-arts du Québec. Jika ingin berkunjung, informasi mengenai harga tiket dan jadwal buka museum dapat dilihat di sini.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s